puncak kerinci
Menjajal Puncak Tertingggi di Pulau Andalas
Catatan perjalanan Hasmida
Bagi masyarakat umumnya, menjadi manusia tertinggi di pulau Sumatera, tidak berarti apa-apa. Namun bagi sebahagian orang terutama para penggemar kegiatan dialam bebas yang kerap kali menguji adrenalin diantara rimba belantara hal ini merupakan pemuas batin. Karena tidak akan ada kalimat yang tepat untuk mewakili perasaan saat telapak sepatu menginjak batu cadas yang ada di puncak gunung Kerinci yang memiliki ketinggian 3805 meter diatas Permukaan Laut (MDPL), atau gunung tertinggi di disepanjang pulau Andalas.
Gunung Kerinci memang menjadi simbol petualangan bagi masyarakat Indonesia atau Sumatera khusunya, sebab Gunung kerinci yang berada diantara terdapat dua Kabupaten yaitu Kerinci dan Sulak Deras, atau pada lintang 10°45,50' LS dan 1010°160' BT merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia yang dapat dipastikan akan membangunkan adrenalin para petualang.
Inilah yang kemudian melatarbelakangi Hasmida Brutu, Rani Indah dan Vivi, yang merupakan anggota muda AKONAK salah satu kelompok pengemar kegiatan alam bebas untuk melakukan ekspedisi menaklukan gunung kerinci. Dengan persiapan fisik dan bermodal pengetahuan dari berbagai referensi, akhirnya kami melakukan perjalanan pada April 2005 yang lalu.
Setelah menempuh perjalanan darat yang cukup panjang dari Medan, mata kami dimanjakan dengan hamparan perkebunan teh setibanya di desa Kersik Tuo yang terdapat dikaki gunung kerinci. Di desa berada di sebelah Utara ibukota Kabupaiten Kerinci, kami berhasil menemukan Simpang Macan yang merupakan pintu masuk menuju ke Gunung Kerinci.
Sebelum mendaki kami memutuskan untuk kemudian menginap di home stay yang dikelola masyarakat setempat yang mayoritas adalah suku Jawa dan sudah lama sekali tinggal disana, bahkan sejak jaman kolonial Belanda di penginapan yang hanya dikenakan biaya Rp 20.000 atau untuk kelas VIP hanya Rp 70.000 kami mendapatkan informasi-informasi sebelum melakukan pendakian dari pengelola home stay.
Keesokan harinya, setelah seluruh mengecek perlengkapan dan kebutuhan logistik, kami kemudian pamit dan memulai pendakian menuju pintu rimba gunung kerinci yang berjarak sekitar 6 km dari simpang macan. Sesampainya disebuah gapura usang, kami spontan mengatakan ini ‘pintu rimba gunung kerinci’ karena gapura usang itu memberikan tanda bahwa kawasan hutan TNGL berada dibawah perlindungan Taman Nasional Kerinci Semblat (TNKS).
Dari gapura ini kami kemudian melanjutkan perjalanan menembus belantara hutan Gunung Kerinci yang dikenal masih ‘perawan’, bahkan harus ekstra hati-hati, karena kawasan ini dikenal sebagai salah satu habitat Harimau Sumatera.
Hal itu diperkuat dengan peringatan-peringatan yang menyebutkan jika anda mendaki gunung ini, jangan bermalam atau mendirikan tenda di daerah selter I atau didaerah ketinggiannya dibawah 1500 mdpl. Karena daerah ini merupakan habitatnya Harimau Sumatera dan tempat satwa langka ini berburu. Selain itu para pendaki juga dianjurkan untuk tidak membawa makanan yang berbau anyir atau daging mentah.
Disepanjang pengdakian, kami disuguhi dengan pemandangan hutan hujan tropis yang merupakan ciri khas hutan Indonesia, dan sesampainya di ketinggian 2510 MDPL atau yang akrab disebut dengan selter 2 kami langsung melepas lelah disebuah pondok tua yang semakin rapuh termakan usia dan ganasnya alam.
Sadar puncak kerinci masih sangat jauh, kami kembali memanggul ransel masing-masing untuk melanjutkan perjalanan menuju shelter 3 yang memiliki ketinggian 3073 MDPL. Dari selter 2 menuju selter 3 yang berjarak sekitar 2 km dan dapat ditempuh dalam waktu 2 jam, namun itu tidak mudah dilalui karena medan yang terjal dengan kemiringan 45 derajat sangat menguras tenaga.
Kelelahan yang mendera kami, spontan hilang tak kala kami melihat pondok yang hanya tinggal kerangka besi, sebab itu merupakan shelter 3, yang berarti tempat istirahat. Selter yang berada didaerah terbuka ini juga terdapat sumber mata air. Dari selter ini kami juga dapat memandang kearah desa Kersik Tuo. Meskipun perjalanan menuju puncak hanya tinggal 3 jam perjalanan dari shelter ini, kami memutuskan untuk bermalam karena hari telah semakin sore.
Dinginnya udara dan rasa lelah membuat kami enggan melepaskan diri dari bungkusan Sleping Bag, namun puncak kerinci telah menunggu. Akhirnya setelah packing barang kami melanjutkan perjalanan memecah heningnya fajar belantara Kerinci. Untuk mencapai puncak ketahanan fisik dan semangat tim benar-benar diuji, karena kami harus melalui jalur air yang sangat terjal untuk dapat mencapai shelter 4 (3351 MDPL) yang hanya berjarak 1,5 km dari lokasi kami bermalam.
Di selter 4 yang merupakan batas vegetasi, akan terlihat papan pengumuman yang berisikan larangan membuat rute baru dan hati-hati karena lintasan pasir dan cadas cukup berbahaya. Angin yang bertiup kencang serta suhu yang dingin memang cukup menyulitkan bagi kami untuk menhcapai puncak yang berjarak sekitar 2 km dengan waktu tempuh 2,5 jam.
Persiapan fisik dan mental yang baik sepertinya syarat untuk mengapai puncak kerinci, sebab karena medan yang curam dan hawa dingin dengan suhu 5 sampai 10 Celcius akan membuyarkan kosentrasi setiap pendaki yang akan melanjutkan perjalanan dari selter 4. Setelah melalui medan yang cukup terjal akhirnya kami berhasil mencapai puncak yang ditandai dengan cekungan kawah yang memiliki ukuran sekitar 600 x 100 meter persegi dari sisi ke sisi dan daerah lava aktif yang berwarna hijau kekuning kuningan 120 x 100 meter persegi.
Memukau memang! Saat mata kami disajikan lukisan yang Maha esa sunguh sempurna, bagaimana tidak dari puncak Kerinci, kita bisa melihat danau kerinci dan danau situjuh yang berada diatas puncak bukit situjuh, serta di bagian selatan terlihat Lubuk Gadang dan Muara Labuh. Sementara di arah barat terlihat samudera Hindia. Tapi satu hal yang perlu diingat, pemandangan yang sangat memukau ini jangan melenakan kita sebab cuaca dingin dengan hembusan angin yang kencang, tak jarang mengakibatkan pendaki menderita Frosbite. Meskipun belum puas menikmati pemandangan dari puncak gunung Kerinci kami memutuskan untuk turun gunung dan melanjutkan istirahat di desa Kresik Tuo yang dapat ditempuh dengan waktu 8 jam.(****)
+++++++++++++++++
Mengintip Keindahan ‘Danau Dewa’ di Puncak Gunung Tujuh
Catatan Perjalanan Rani Indah, Vivi
Kabupaten Kerinci sepertinya layak disebut sebagai surga para petualang, bagaimana tidak selain memikili puncak tertinggi di sepanjang pulau Sumatera, bagaimana tidak di kabupaten paling barat Provinsi Jambi itu terdapat sekurangnya empat danau, yaitu Kerinci, Gunung Tujuh, Belibis dan Lingkat.
Tapi mengingat perjalanan ini mengusung nama Ekspedisi Andalas Java, kami memutuskan untuk menjelajahi gunung tujuh yang dikenal memiliki danau vulkanik yang terbentuk akibat kegiatan gunung berapi di masa lampau. Danau yang berada pada ketinggian 1.996 MDPL. Keistimewaan danau yang menurut cacatan memilikiluas sekitar 12 kilometer persegi dengan panjang sekitar 4.500 meter dan lebar 3000 meter itu karena dikelilingi tujuh puncak gunung yakni Gunung Hulu Tebo dengan ketinggian 2.525 MDPL, Gunung Hulu Sangir dengan ketinggian 2.330 MDPL, Gunung Mandura Besi dengan ketinggian 2.418 MDPL, Gunung Selasih 2.230 MDPL, Gunung Jar Panggang dengan ketinggian 2.469 MDPL, dan gunung dengan puncak paling tinggi, yaitu Gunung Tujuh (2.732 meter dpl).
Untuk mencapai gunung ini dari desa Kresik Tuo tidak terlalu sulit sebab kawasan Gunung Tujuh hanya dipisahkan oleh jalan raya yang menghubungkan Sungai Penuh, ibu kota Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, dengan Muara Labuh, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Sesampainya di desa Pelompek, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci dengan ketinggian 1.600 MDPL kami langsung merapatkan jaket sebab daerah ini lebih dingin karena angin selalu bertiup kencang. Sebelum melakukan pendakian kami terlenbih dahulu melapor ke petugas pos Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang memang bertugas mendata setiap pendaki.
Dari pos ini menuju puncak kami memperoleh informasi bahwa sebenarnya ada dua jalur pendakian, yakni melalui jalur lama yang lebih landai tetapi lebih jauh dan melalui jalur baru dengan kemiringan lebih curam hingga lebih dari 60 derajat namun lebih cepat. Setelah berkoordinasi akhirnya kami jalur baru dan diujung pendakian kami harus melalui jalan yang cukup curam agar tiba di tepi Danau Gunung Tujuh. Di tempat inilah keajaiban alam bisa dilihat. Sebuah danau dengan panjang sekitar empat kilometer dan lebar tiga kilometer membentang di depan mata.
Seakan tidak percaya jika tidak melihat secara langsung, sebab di beberapa bagian danau Gunung Tujuh terdapat pantai yang landai meskipun sebagian besar tepi danau merupakan tepian gunung yang sangat terjal. Inilah yang kemudian menjadikan danau gunung tujuh menjadi tujuan utama para pendaki, bahkan pantai pasir putih ini merupakan tempat yang cocok untuk berkemah, untuk melengkapi kenikmatan menyaksikan keindahan danau, terutama ketika Sang Surya terbit dari ufuk timur.
Air Terjun Gunung Tujuh, dengan ketinggian puluhan meter yang memiliki sumber air dari Danau Gunung Tujuh ini juga menambah keunikan kawasan Danau Gunung Tujuh, untuk mengcapai danau ini tidak terlalu sulit sebab dapat dilalui dari jalan setapak tidak jauh dari bekas wisma peristirahatan di dekat pos jaga di kaki gunung dengan waktu tempuh perjalanan selama dua jam hingga tiga jam.
Danau Gunung Tujuh dengan segala keindahan alam yang disimpannya hingga kini belum terusik tangan-tangan jahil, bahkan saat ini kawasan Gunung Tujuh adalah daerah yang masih utuh dan lestari. Sebab pihak Balai TNKS selalu mengingatkan pengunjung agar tidak mengambil, menangkap, atau membawa keanekaragaman hayati yang dimiliki kawasan ini. Selain itu setiap pendaki juga diingatkan pula untuk tidak mencorat-coret atau menorehkan apa pun di kawasan Gunung Tujuh.
Tidak bisa dimungkiri, Danau Gunung Tujuh dan kawasan alam di sekitarnya merupakan salah satu primadona wisata di Kabupaten Kerinci. Dari begitu banyak lokasi wisata alam yang indah di kabupaten itu, Danau Gunung Tujuh menjadi lebih menonjol karena keunikan dan keindahan yang dimilikinya. (****)
