Sunday, June 05, 2005

puncak kerinci

Menjajal Puncak Tertingggi di Pulau Andalas

Catatan perjalanan Hasmida

Bagi masyarakat umumnya, menjadi manusia tertinggi di pulau Sumatera, tidak berarti apa-apa. Namun bagi sebahagian orang terutama para penggemar kegiatan dialam bebas yang kerap kali menguji adrenalin diantara rimba belantara hal ini merupakan pemuas batin. Karena tidak akan ada kalimat yang tepat untuk mewakili perasaan saat telapak sepatu menginjak batu cadas yang ada di puncak gunung Kerinci yang memiliki ketinggian 3805 meter diatas Permukaan Laut (MDPL), atau gunung tertinggi di disepanjang pulau Andalas.

Gunung Kerinci memang menjadi simbol petualangan bagi masyarakat Indonesia atau Sumatera khusunya, sebab Gunung kerinci yang berada diantara terdapat dua Kabupaten yaitu Kerinci dan Sulak Deras, atau pada lintang 10°45,50' LS dan 1010°160' BT merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia yang dapat dipastikan akan membangunkan adrenalin para petualang.

Inilah yang kemudian melatarbelakangi Hasmida Brutu, Rani Indah dan Vivi, yang merupakan anggota muda AKONAK salah satu kelompok pengemar kegiatan alam bebas untuk melakukan ekspedisi menaklukan gunung kerinci. Dengan persiapan fisik dan bermodal pengetahuan dari berbagai referensi, akhirnya kami melakukan perjalanan pada April 2005 yang lalu.

Setelah menempuh perjalanan darat yang cukup panjang dari Medan, mata kami dimanjakan dengan hamparan perkebunan teh setibanya di desa Kersik Tuo yang terdapat dikaki gunung kerinci. Di desa berada di sebelah Utara ibukota Kabupaiten Kerinci, kami berhasil menemukan Simpang Macan yang merupakan pintu masuk menuju ke Gunung Kerinci.

Sebelum mendaki kami memutuskan untuk kemudian menginap di home stay yang dikelola masyarakat setempat yang mayoritas adalah suku Jawa dan sudah lama sekali tinggal disana, bahkan sejak jaman kolonial Belanda di penginapan yang hanya dikenakan biaya Rp 20.000 atau untuk kelas VIP hanya Rp 70.000 kami mendapatkan informasi-informasi sebelum melakukan pendakian dari pengelola home stay.

Keesokan harinya, setelah seluruh mengecek perlengkapan dan kebutuhan logistik, kami kemudian pamit dan memulai pendakian menuju pintu rimba gunung kerinci yang berjarak sekitar 6 km dari simpang macan. Sesampainya disebuah gapura usang, kami spontan mengatakan ini ‘pintu rimba gunung kerinci’ karena gapura usang itu memberikan tanda bahwa kawasan hutan TNGL berada dibawah perlindungan Taman Nasional Kerinci Semblat (TNKS).

Dari gapura ini kami kemudian melanjutkan perjalanan menembus belantara hutan Gunung Kerinci yang dikenal masih ‘perawan’, bahkan harus ekstra hati-hati, karena kawasan ini dikenal sebagai salah satu habitat Harimau Sumatera.

Hal itu diperkuat dengan peringatan-peringatan yang menyebutkan jika anda mendaki gunung ini, jangan bermalam atau mendirikan tenda di daerah selter I atau didaerah ketinggiannya dibawah 1500 mdpl. Karena daerah ini merupakan habitatnya Harimau Sumatera dan tempat satwa langka ini berburu. Selain itu para pendaki juga dianjurkan untuk tidak membawa makanan yang berbau anyir atau daging mentah.

Disepanjang pengdakian, kami disuguhi dengan pemandangan hutan hujan tropis yang merupakan ciri khas hutan Indonesia, dan sesampainya di ketinggian 2510 MDPL atau yang akrab disebut dengan selter 2 kami langsung melepas lelah disebuah pondok tua yang semakin rapuh termakan usia dan ganasnya alam.

Sadar puncak kerinci masih sangat jauh, kami kembali memanggul ransel masing-masing untuk melanjutkan perjalanan menuju shelter 3 yang memiliki ketinggian 3073 MDPL. Dari selter 2 menuju selter 3 yang berjarak sekitar 2 km dan dapat ditempuh dalam waktu 2 jam, namun itu tidak mudah dilalui karena medan yang terjal dengan kemiringan 45 derajat sangat menguras tenaga.

Kelelahan yang mendera kami, spontan hilang tak kala kami melihat pondok yang hanya tinggal kerangka besi, sebab itu merupakan shelter 3, yang berarti tempat istirahat. Selter yang berada didaerah terbuka ini juga terdapat sumber mata air. Dari selter ini kami juga dapat memandang kearah desa Kersik Tuo. Meskipun perjalanan menuju puncak hanya tinggal 3 jam perjalanan dari shelter ini, kami memutuskan untuk bermalam karena hari telah semakin sore.

Dinginnya udara dan rasa lelah membuat kami enggan melepaskan diri dari bungkusan Sleping Bag, namun puncak kerinci telah menunggu. Akhirnya setelah packing barang kami melanjutkan perjalanan memecah heningnya fajar belantara Kerinci. Untuk mencapai puncak ketahanan fisik dan semangat tim benar-benar diuji, karena kami harus melalui jalur air yang sangat terjal untuk dapat mencapai shelter 4 (3351 MDPL) yang hanya berjarak 1,5 km dari lokasi kami bermalam.

Di selter 4 yang merupakan batas vegetasi, akan terlihat papan pengumuman yang berisikan larangan membuat rute baru dan hati-hati karena lintasan pasir dan cadas cukup berbahaya. Angin yang bertiup kencang serta suhu yang dingin memang cukup menyulitkan bagi kami untuk menhcapai puncak yang berjarak sekitar 2 km dengan waktu tempuh 2,5 jam.

Persiapan fisik dan mental yang baik sepertinya syarat untuk mengapai puncak kerinci, sebab karena medan yang curam dan hawa dingin dengan suhu 5 sampai 10 Celcius akan membuyarkan kosentrasi setiap pendaki yang akan melanjutkan perjalanan dari selter 4. Setelah melalui medan yang cukup terjal akhirnya kami berhasil mencapai puncak yang ditandai dengan cekungan kawah yang memiliki ukuran sekitar 600 x 100 meter persegi dari sisi ke sisi dan daerah lava aktif yang berwarna hijau kekuning kuningan 120 x 100 meter persegi.

Memukau memang! Saat mata kami disajikan lukisan yang Maha esa sunguh sempurna, bagaimana tidak dari puncak Kerinci, kita bisa melihat danau kerinci dan danau situjuh yang berada diatas puncak bukit situjuh, serta di bagian selatan terlihat Lubuk Gadang dan Muara Labuh. Sementara di arah barat terlihat samudera Hindia. Tapi satu hal yang perlu diingat, pemandangan yang sangat memukau ini jangan melenakan kita sebab cuaca dingin dengan hembusan angin yang kencang, tak jarang mengakibatkan pendaki menderita Frosbite. Meskipun belum puas menikmati pemandangan dari puncak gunung Kerinci kami memutuskan untuk turun gunung dan melanjutkan istirahat di desa Kresik Tuo yang dapat ditempuh dengan waktu 8 jam.(****)

+++++++++++++++++

Mengintip Keindahan ‘Danau Dewa’ di Puncak Gunung Tujuh

Catatan Perjalanan Rani Indah, Vivi

Kabupaten Kerinci sepertinya layak disebut sebagai surga para petualang, bagaimana tidak selain memikili puncak tertinggi di sepanjang pulau Sumatera, bagaimana tidak di kabupaten paling barat Provinsi Jambi itu terdapat sekurangnya empat danau, yaitu Kerinci, Gunung Tujuh, Belibis dan Lingkat.

Tapi mengingat perjalanan ini mengusung nama Ekspedisi Andalas Java, kami memutuskan untuk menjelajahi gunung tujuh yang dikenal memiliki danau vulkanik yang terbentuk akibat kegiatan gunung berapi di masa lampau. Danau yang berada pada ketinggian 1.996 MDPL. Keistimewaan danau yang menurut cacatan memilikiluas sekitar 12 kilometer persegi dengan panjang sekitar 4.500 meter dan lebar 3000 meter itu karena dikelilingi tujuh puncak gunung yakni Gunung Hulu Tebo dengan ketinggian 2.525 MDPL, Gunung Hulu Sangir dengan ketinggian 2.330 MDPL, Gunung Mandura Besi dengan ketinggian 2.418 MDPL, Gunung Selasih 2.230 MDPL, Gunung Jar Panggang dengan ketinggian 2.469 MDPL, dan gunung dengan puncak paling tinggi, yaitu Gunung Tujuh (2.732 meter dpl).

Untuk mencapai gunung ini dari desa Kresik Tuo tidak terlalu sulit sebab kawasan Gunung Tujuh hanya dipisahkan oleh jalan raya yang menghubungkan Sungai Penuh, ibu kota Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, dengan Muara Labuh, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.


Sesampainya di desa Pelompek, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci dengan ketinggian 1.600 MDPL kami langsung merapatkan jaket sebab daerah ini lebih dingin karena angin selalu bertiup kencang. Sebelum melakukan pendakian kami terlenbih dahulu melapor ke petugas pos Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang memang bertugas mendata setiap pendaki.

Dari pos ini menuju puncak kami memperoleh informasi bahwa sebenarnya ada dua jalur pendakian, yakni melalui jalur lama yang lebih landai tetapi lebih jauh dan melalui jalur baru dengan kemiringan lebih curam hingga lebih dari 60 derajat namun lebih cepat. Setelah berkoordinasi akhirnya kami jalur baru dan diujung pendakian kami harus melalui jalan yang cukup curam agar tiba di tepi Danau Gunung Tujuh. Di tempat inilah keajaiban alam bisa dilihat. Sebuah danau dengan panjang sekitar empat kilometer dan lebar tiga kilometer membentang di depan mata.

Seakan tidak percaya jika tidak melihat secara langsung, sebab di beberapa bagian danau Gunung Tujuh terdapat pantai yang landai meskipun sebagian besar tepi danau merupakan tepian gunung yang sangat terjal. Inilah yang kemudian menjadikan danau gunung tujuh menjadi tujuan utama para pendaki, bahkan pantai pasir putih ini merupakan tempat yang cocok untuk berkemah, untuk melengkapi kenikmatan menyaksikan keindahan danau, terutama ketika Sang Surya terbit dari ufuk timur.

Air Terjun Gunung Tujuh, dengan ketinggian puluhan meter yang memiliki sumber air dari Danau Gunung Tujuh ini juga menambah keunikan kawasan Danau Gunung Tujuh, untuk mengcapai danau ini tidak terlalu sulit sebab dapat dilalui dari jalan setapak tidak jauh dari bekas wisma peristirahatan di dekat pos jaga di kaki gunung dengan waktu tempuh perjalanan selama dua jam hingga tiga jam.

Danau Gunung Tujuh dengan segala keindahan alam yang disimpannya hingga kini belum terusik tangan-tangan jahil, bahkan saat ini kawasan Gunung Tujuh adalah daerah yang masih utuh dan lestari. Sebab pihak Balai TNKS selalu mengingatkan pengunjung agar tidak mengambil, menangkap, atau membawa keanekaragaman hayati yang dimiliki kawasan ini. Selain itu setiap pendaki juga diingatkan pula untuk tidak mencorat-coret atau menorehkan apa pun di kawasan Gunung Tujuh.

Tidak bisa dimungkiri, Danau Gunung Tujuh dan kawasan alam di sekitarnya merupakan salah satu primadona wisata di Kabupaten Kerinci. Dari begitu banyak lokasi wisata alam yang indah di kabupaten itu, Danau Gunung Tujuh menjadi lebih menonjol karena keunikan dan keindahan yang dimilikinya. (****)

Sunday, February 20, 2005

sesosok tubuh wanita renta itu selalu

Saturday, December 04, 2004

beribu mil kutinggalkan kota kelahiranku
entah berapa putaran mentari... aku berada di disini
namun aku belum menemukan apa yang kucari
apakah ini kesia-siaan

Tidak aku haram dengan kesia-siaan
secawan anggur memang telah menelakanku...
hingga aku tak jarang ku alpa untuk menghitung
berapa kali mentari terbit dari timur

tapi.. saat aku menghitung terbenam mentari dengan secawan anggur,
suara bocah itu mengingatkanku

bahwa setiap senci tinggi tubuh dekil ini
buah dari keringat ayahku yang semakin rintih dimakan egoisnya sang waktu

atau keringat sang bunda yang selalu membenahi lumbung gandum keluargaku.....



Monday, November 29, 2004

coretan langkah

Melirik Suksesi Hutan di Aras Napal

Mungkin tak banyak orang yang mengenal Aras Napal, daerah terpencil yang terdapat dikawasan Dipterocarpaceae atau hutan dataran rendah, dan pernah menjadi areal HPH tahun 1979, tapi bagi sebagian orang kawasan yang secara geografis terdapat di areal taman nasional gunung leuser di Kabupaten Langkat ini cukup dikenal, terutama bagi kalangan pengemar kegiatan alam bebas atau para peneliti.

Untuk mengunjungi kawasan yang terdapat di Kecamatan Besitang kabupaten Langkat atau berjarak sekitar 120 Km dari Medan, ini cukup menaiki bus Liberty dan Sinar Mas jurusan Medan-Pantai Buaya dengan ongkos hanya Rp 8000 untuk satu orang dari terminal Pinang Baris Medan. Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 4 hingga 5 jam anda akan tiba di Desa Pantai Buaya yang berpenduduk sekira 250 jiwa dengan kondisi kepala yang dapat dipastikan ‘pusing’, karena dari simpang Medan- Banda Aceh perjalanan akan terasa seperti menaiki rodeo, setibanya di desa ini rasa ‘pusing’ akan berkurang setelah menikmati segelas kopi panas di warung atau terminal tunggu untuk penyebrangan menuju Aras Napal.

Hilangnya rasa pusing setelah menaiki ‘Rodeo’ selama lebih kurang 45 menit tersebut, anda tinggal memutuskan memilih jalur mana untuk mencapai UPG Aras Napal. Bagi yang mengemari kegiatan di petualangan, dapat dipastikan akan memilih rute melalui 'jalur kanan' yakni dengan menyisir sungai Aras kearah hulu dan setibanya di Desa Aras Napal Kanan tinggal memilih ingin melintasi jembatan tua yang dipastikan akan menguji adrelenin yang melintasinya atau mengeluarkan uang senilai Rp 1000 untuk membayar jasa masyarakat yang akan menyebrangkan anda ke menuju Desa Aras Napal Kiri dengan menggunakan sebuah sampan, dari sini hanya dibutuhkan waktu 30 menit berjalan kaki untuk tiba di Aras Napal.

Atau jalur alternatif yang sangat menghemat tenaga yakni melalui jalur air dengan menyusuri Sungai Aras kearah hulu dengan menggunakan sampan bermesin. Sampan yang dimiliki masyarakat tersebut dapat kita sewa dengan harga Rp 45000 sekali jalan dengan jumlah penumpang maksimal 10 orang. Namun bagi orang yang tidak memiliki keterampilan untuk berenang disarankan agar memilih jalur kanan, karena sampan yang dinaiki akan sarat muatan apalagi ada masyarakat yang membawa berbagai macam kebutuhan hidupnya.

Dikenalnya Aras Napal dikalangan para peneliti atau aktifis konservasi karena di areal inilah satu-satunya kawasan yang paling pas untuk suksesi hutan hingga berjalan secara maksimal, karena saat dikembalikan kepada pemerintah tahun 1982 dari PT RGM selaku pemegang HPH kondisinya sangat memprihatinkan. Namun sekarang beraneka ragam pohon diameternya mencapai 50 Cm, yang kemudian dimanfaatkan oleh para peneliti mengetahui keanekaragaman hayati yang terkandung.

Kawasan yang sering diibaratkan oleh para pengemar kegiatan alam bebas atau para peneliti sebagai surga yang tersisa dikarenakan kawasan ini menyimpan berbagai potensi keragaman bioniversity yang sagat tinggi. Di areal yang memiliki ketinggian antara 30-100 m di atas permukaan laut, Aras Napal memiliki indeks keanekaragaman hayati yang cukup tinggi dan juga sesuai bagi habitat gajah sumatera, harimau, beruang madu, dan orang utan.

Daun Sang Simbol Aras Napal

Kawasan ini juga merupakan habitat bagi spesies palem langka (Johannesteijsmania altifrons). Sehingga sangat digemari para peneliti dari berbagai kalangan, selain potensi sumber daya alamnya yang cukup melimpah kawasan Aras Napal juga dikenal dengan karena memiliki vegetasi yang cukup khas dengan adanya tumbuhan Daun Sang (Johannestijsmania altifrons).

Tumbuhan yang memiliki penyebaran tidak luas dan bersifat endemik ini tidak ditemukan ditempat lain, tumbuhan yang pertama kali ditemukan oleh Propesor Teijsman seorang ahli botani dari Belanda. Menurut IUCN jenis tumbuhan ini telah masuk dalam Red Data Book sebagai jenis yang terancam punah. Setelah melalui penelitian Daun Sang sendiri kemudian teridentifikasi termasuk keluarga Palmae, yang memiliki daun tunggal ukuran besar mencapai 3 meter panjang dan lebar 1 meter. Jenis ini termasuk tumbuhan yang tidak tahan terkena sinar matahari langsung jenis toleran), lebih sering hidup dibawah naungan pepohonan. Hidup berkelompok membentuk rumpun dan penyebarannya sangat terbatas. Perkembangan jenis ini lebih banyak berasal dari dari anakan dari pada bijinya yang tertutup oleh kulit tebal yang berbentuk bulat dan bergigi.

Karena ukuran dan daunnya yang kuat, masyarakat setempat dahulu memanfaatkan untuk atap rumah bahkan hingga sekarang banyak masyarakat yang menggunakan daun sang untuk membuat atap gubuk diladang-ladangnya.Untuk membuat atap dari daun sang ini tidak sulit, masyarakat hanya tinggal mengambil setiap helai daun, disinilah perlu sedikit ketelitian. Sebab daun sang harus dipotong mulai dari pangkalnya untuk menghindari daun yang terbelah-belah. Selanjutnya tinggal menjemur helai demi helai daun sang, jika cuaca cukup terik dipastikan dalam 5 hari daun akan mengering. Dari sini tinggal merajutnya menjadi atap. Jika daun sang benar-benar kering maka atap yang terbuat dari daun ini akan bertahan hingga bertahun-tahun.

Dulu Ada Sawmill Sekarang ada Unit Patroli Gajah

Memang unik jika berbicara tentang Aras Napal, jika dulu kawasan ini penuh dengan saw mill, sejak tahun 1999 saw mil-saw mil itu berubah menjadi kamar berukuran 3 x 4 meter tempat beberapa orang yang mencoba untuk menyelamatkan warisan nenek moyang, ditandai dengan berdirinya Unit Patroli Gajah (UPG) hasil kerjasama Unit Manajemen Leuser (UML)dengan Balai Taman Nasional Gunung Leuser (BTNGL). Dikawasan yang dikenal dengan sebutan register 242, karena memang memiliki kuas 242 Ha ini, hanya dihuni dengan beberapa orang yang terdiri dari 5 orang pawang gajah, 3 tukang masak, dan beberapa tentara TNI-AD yang menjaga daerah berbatasan.

Distasiun ini UML sengaja memanfaatkan gajah untuk melakukan patroli di ke dalam hutan. Setiap kali melakukan patroli, setiap ekor gajah ditunggangi seorang pawang, dan seorang Polisi Kehutanan dari BTNGL. Patroli yang dilakukan tak jarang mengharuskan para pengawas hutan ini menginap beberapa malam didalam hutan. Meskipun belum maksimal, keberadaan UPG ini cukup menekan angka degradasi hutan alami dikawasan Ekosistem Leuser, sebab berdasarkan beberapa cacatan beberapa kasus yang cukup menarik berhasil diunngkap oleh UPG ini seperti penyetruman ikan disungai Besitang, pemusnahan jerat hewan dan pencegahan peluasan perambahan seluas 5 hektar di Alur Gusta kawasan TNGL. Untuk kasus perambahan ini kini telah dilaporkan kepada Kantor BTNGL dan menunggu proses selanjutnya. Namun UPG tetap mengawasi lokasi perambahan agar tidak terus meluas. Irfan selaku manajer UPG dari UML, stasiun ini tidak berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), melainkan dikawasan bekas HPH PT RGM yang di bawah wewenang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) I Sumut.

Maraknya perambahan hutan di kawasan TNGL, terutama di daerah-daerah perbatasan merupakan alasan diadakannya UPG. "Stasiun ini ada sejak 1998, dan melibatkan berbagai intasi yang berwenang" ujarnya. Irfan juga menjelaskan pihaknya dengan petugas Polhut secara priodik selalu mengadakan razia terhadap para perambah hutan di daerah-daerah perbatasan. "Hingga saat ini UPG memiliki sebanyak 5 ekor gajah dewasa yang langsung didatangkan dari pusat pelatihan gajah Way Kambas Lampung Timur dan 1 ekor gajah yang baru berusia 6 bulan" katanya. Ketika ditanya mengapa menggunakan gajah, kemudian Irfan menjelaskan karena selain memiliki tenaga yang cukup besar, gajah juga tergolong satwa yang memiliki intelejensi yang cukup tinggi, serta mampu menempuh jarak 25 km untuk sekali patroli.

Selain itu gajah juga mampu melintasi berbagai tantangan seperti jalan turunan atau tanjakan bahkan untuk menyeberagi sungai tidak menjadi masalah yang berarti. Dalam operasi tersebut ditambahkan Irfan jika ditemukan para perambah hutan atau kayu-kayu hasil perambahan pihaknya langsung menyitanyua. "Jika tidak memungkinkan maka, dengan menggunakan tenaga gajah kayu-kayu hasil rambahan akan dirusak" tuturnya, sembari menerangkan hal itu untuk memberikan efek jera bagi para pelaku yang telah mengeluarkan modal yang cukup besar untuk melakukan perambahan. Disela-sela ngobrol raut wajah Irfan secara tiba-tiba berubah, hal itu dikatakannya jika dirinya mengingat produk hukum yang ada sekarang ini tidak dapat menjerat para pelaku perambahan hutan, sebab pihaknya bersama Polhut hanya dapat menahan dan untuk proses lanjutannya diserahkan kepada pihak kepolisian."Beberapa kali patroli berhasil menangkap para pertambah, namun kasusnya tidak pernah terungkap hingga tuntas, dan banyak yang tidak sampai kepengadilan" katanya.

Inilah yang mengakibatkan banyak Polhut dan peserta patroli lainnya frustasi, bagaimana tidak berbagai upaya telah dilakukan namun kelanjutan proses hukumnya selalu berbenturan dengan birokrasi yang panjang ditingkat kepolisian maupun kepolisian. Patroli gajah sendiri menurut Irfan dilakukan di daerah-daerah perbatasan seperti kawasan Sikundur, bahkan hingga daerah Tangkahan dengan memakan waktu tempuh selama 10 hari.




Indra Sang Pawang Gajah
"Belum Ada Keinginan Untuk Beralih Profesi"

"Biarpun harus jauh dari keluarga, namun belum ada keinginan untuk beralih profesi" petikan kalimat itu berulang kali dilontarkan Indra Saputra, salah seorang pawang gajah di Unit Patroli Gajah (UPG) Unit Manajemen Lueser (UML) di Aras Napal Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat. Kecintaan pria lajang ini terhadap hewan berbadan besar ini berawal ketika dirinya belum memiliki pekerjaan meskipun setelah studi disekolah menengah atas (SMA).

Ditengah kegalauan mencari pekerjaan itulah pria yang baru berusia 26 tahun ini melihat bagaimana kepiawan seorang pawang yang mampu menjinakkan gajah, “Waktu dulu seperti mimpi melihat hewan dengan berat puluhan ton itu tunduk dengan petintah pawangnya” kata Indra yang memang berasal dari Lampung, tepatnya disekitar pusat pelatihan gajah di Way Kambas Lampung.

Rasa kagum dan adanya pekerjaan mengakibatkan Indra membantu para pelatih gajah di pusat pelatihan Gajah Way Kambas. “Awalnya hanya untuk mengisi waktu luang dan lumayan untuk mencari uang rokok” ucapnya. Seiring berjalannya waktu Indra lambat laun mulai memahami sifat alamiah gajah. Sembari menghisap rokok Indra mulai menuturkan pengalamannya waktu pertama kali menaklukan gajah, menurutnya untuk menjinakan gajah memerlukan waktu yang cukup lama, apalagi gajah tersebut merupakan gajah liar. "Biasanya untuk seekor gajah diperlukan waktu 3 hingga 6 bulan itupun tergantung kepada intelejensia gajah tersebut” katanya. Karena pada dasarnya setiap hewan memiliki tingkat pemikiran yang berbeda-beda. "Bahkan waktu di Way Kambas dulu ada gajah yang tidak dapat dijinakkan" tuturnya.

Diterangkannya lagi bahwa jika gajah yang dilatih telah dapat mengangkat kakinya merupakan indikator bahwa gajah tersebut telah jinak, tinggal bagaimana melatih gajah-gajah tersebut untuk berbagai keperluan. Hingga kini ujar Indra untuk mengendalikan gajah cukup dengan alat yang disebut gancu yang berbentuk seperti arit kecil yang kemudian di 'ketok' kekepala gajah.Namun dijelaskan Indra jika gajah tersebut cukup jinak maka gancu tidak di perlukan lagi. "Cukup hanya dengan kata-kata, tapi gancu harus tetap dibawa untuk menghindari kejadian yang tidak dinginkan" ujarnya. Indra yang sejak 1998 berada di UPG Aras Napal ini menuturkan selalu berusaha menghindari gerombolan gajah-gajah liar. "Karena secara naruli gajah akan mengkituti intings binatangnya" tegasnya.

Yang paling menyakitkan selama patroli menurut Indra saat mengadakan perjalanan di daearh-daerah yang terbuka, sebab gajah lebih cepat keletihan jika berjalan dalam cuaca yangcukup terik."Jika demikian kita yang harus cepat tanggap, karena jika tidak kita akan mendapat semburan debu dari belalainya dan untuk mengatasi hal itu harus cepat mencari daerah yang lembab atau sungai" paparnya. Untuk merawat gajah diakui Indra tidak terlalu] sulit, cukup hanya dengan mamandikannya dua kali dalam satu hari dan memberikannya makan yang cukup."Untuk disini setiap gajah diberikan sebanyak 50 batang pelepah daun kelapa, dan sisanya gajah sendiri yang akan mencari makanannya" tandas Indra. Berdasarkan penelitian pangan gajah mencapai 500 jenis tumbuhan dan yang paling penting menjaga gajah yang ada dari serangan gajah liar. Dalam UPG Aras Napal seindiri diterangkan Indra terdapat sebanyak 5 ekor gajah dimana 1 diantaranya gajah jantan. "Beberapa bulan lalu UPG kedatangan gajah baru yang merupakan perkawinan dengan gajah liar" paparnya."Pekerjaan ini membutuhkan kesabaran yang ekstra, dan harus rela berpisah dengan keluarga berbulan-bulan" katanya, demi mencoba menyelamatkan secuil kawasan hijau di Sumut.